Menjaga Ketauhidan dalam Lisan: Meluruskan Kesalahan Umum saat Mengutip Al-Qur’an
Dalam rangkaian ibadah salat Subuh di Masjid Nurul Jannah Azalea, sebuah pesan penting disampaikan mengenai ketelitian dalam berbahasa saat berdakwah. Kultum yang berlangsung khidmat ini menyoroti bagaimana kesalahan kecil dalam struktur kalimat dapat berdampak fatal pada makna teologis, khususnya terkait sifat keesaan Allah SWT.
1. Pembukaan dengan Syukur
Ceramah diawali dengan ajakan untuk senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Sang penceramah menekankan bahwa nikmat iman dan kesehatanlah yang memungkinkan jamaah untuk berkumpul menunaikan salat Subuh berjamaah, sembari melantunkan selawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan harapan mendapatkan syafaat di hari akhir.
2. Sorotan terhadap Kesalahan yang Dianggap Biasa
Inti dari kultum ini adalah peringatan mengenai sebuah kekeliruan yang sering dilakukan oleh para penceramah atau khatib saat berada di mimbar. Kesalahan ini berkaitan dengan cara menyambungkan kalimat pengantar sebelum membacakan ayat Al-Qur’an. Meski terdengar lumrah di telinga masyarakat, secara makna, kesalahan ini disebut sangat “fatal.”
3. Kekeliruan dalam Logika Berbahasa
Kesalahan yang dimaksud adalah ketika seorang pembicara menggabungkan kalimat:
“Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang Mulia…” lalu langsung disambung dengan bacaan Ta’awwudz: “…Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Secara harfiah, struktur ini membuat seolah-olah isi dari “firman Allah” tersebut adalah pernyataan bahwa Allah sedang meminta perlindungan kepada Allah yang lain.
4. Dampak Terhadap Konsep Ketauhidan (Wahdaniyyah)
Penceramah menjelaskan bahwa kesalahan penyusunan kalimat ini secara tidak langsung mencederai sifat Wahdaniyyah (Esa/Tunggal). Jika kita menyebut Allah berfirman bahwa Dia mencari perlindungan kepada Tuhan lain, maka hal itu menyalahi hakikat bahwa Allah adalah Maha Kuasa dan tidak membutuhkan perlindungan dari siapa pun. Ini merupakan bentuk kekeliruan logika yang harus dihindari agar tidak merusak akidah.
5. Kesimpulan: Meneladani Surah Al-Ikhlas
Sebagai penutup, jamaah diingatkan kembali pada pesan dalam Surah Al-Ikhlas ayat pertama: “Qul huwallahu ahad” (Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa). Mengingat Allah adalah Zat yang Maha Tunggal, sangat mustahil bagi-Nya untuk membutuhkan entitas lain. Oleh karena itu, para pembicara diharapkan lebih berhati-hati dalam memisahkan antara kalimat pengantar dan bacaan perlindungan (Ta’awwudz) agar pesan yang sampai tetap terjaga kemurnian tauhidnya.
Artikel ini disusun berdasarkan ringkasan Kultum Subuh di Masjid Nurul Jannah Azalea, 15 Maret 2026.
Disampaikan oleh: Ananda Inas, santri di Pesantren Cendekia Amanah Kalimulya Depok. Warga Rt 02
