• Informasi yang ada di website ini juga ditampilkan di monitor televisi yang terpasang di dalam masjid
Jumat, 24 Mei 2024

Memberdayakan Ekonomi Warga di Sekitar Masjid

Memberdayakan Ekonomi Warga di Sekitar Masjid
Bagikan

Ahad 8 Januari 2023 lalu, pengurus baru DKM Nurul Jannah menggelar rapat kerja. Satu hari penuh setiap bidang memaparkan rencana kegiatannya. Mulai dari bidang PHBI, Pendidikan Anak, Remaja dan Orang Tua, Dakwah dan Peribadatan, Ekonomi dan Logistik, Fardlu Kifayah, keamanan, dan Humas-Dokumentasi.

Dewan pembina juga tampak hadir lengkap. Mungkin ini rapat kerja DKM Nurul Jannah yang paling lengkap dihadiri oleh pengurusnya.

Sebelum pembahasan rencana kerja teknis kegiatan masing-masing bidang, terbetik lah usulan untuk memperjelas misi dan tujuan kepengurusan DKM Nurul Jannah kali ini. Ada usulan yang cukup menggelitik untuk memasukkan dalam redaksi misi dan tujuan itu, yakni memajukan perekonomian umat.

Frasa ini ternyata memancing diskusi yang cukup panjang dalam raker tersebut. Beberapa pengurus lantas menyebut contoh konsep manajemen masjid Jogokariyan Yogyakarta sebagai banchmark.

Seberapa pentingkah mengarusutamakan upaya memajukan perekonomian umat oleh pengurus DKM? Lantas kenapa pula kemudian manajemen masjid Jogokariyan dicomot sebagai model? Seberapa relevan untuk mengadopsi model manajemen masjid Jogokariyan untuk diterapkan di Masjid Nurul Jannah?

Jawabannya mungkin bisa beragam.

Mencoba menelusuri fenomena masjid Jogokariyan di internet rasanya seperti ketinggalan kereta. Cerita tentang masjid Jogokariyan telah bertebaran secara luas di dunia mayantara internet. Bahkan mungkin dalam dunia luring, fenomena itu telah bergulir lebih dahsyat.

Rapat Kerja Pengurus DKM Nurul Jannah, 8 Januari 2023

Ada satu buku berjudul Strategi Memakmurkan Masjid. Buku ini ditulis oleh Kusnadi Ikhwani. Sang penulis ternyata adalah ketua takmir masjid Al Falah Sragen, Jawa Tengah.

Buku ini ditulis dari pengalaman takmir masjid Al Falah dalam kegiatan memakmurkan masjid tersebut. Menariknya dalam buku tersebut, disebutkan bahwa dalam waktu 4 tahun Masjid Al Falah berhasil meniru dan mengaplikasikan konsep manajemen masjid Jogokariyan.

Penelusuran berlanjut. Konsep manajemen masjid Jogokariyan sebenarnya tak banyak ditulis dalam format buku. Namun, dalam dokumentasi video di berbagai saluran layanan video seperti youtube atau Tiktok ternyata cukup banyak bertaburan.

Muhammad Jazir, ketua takmir masjid Jogokariyan banyak menyampaikan konsepnya di video-video tersebut. Namun pada bulan Maret 2024 terbit sebuah buku berjudul Manifesto Masjid Nabi. Rumah Allah yang Memihak Rakyat yang diterbitkan oleh Artisankata Publishing House. Buku tersebut rupanya tulisan Muhammad Jazir ASP dan versi tulisan dari banyak pemikirannya yang sering diungkapkan dalam forum-forum yang disiarkan lewat youtube.

Ahmad Badrus Sholihin, mahasiswa Program Studi Magister Agama Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta pernah menulis tesis dengan judul Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Masjid (Studi Pada Masjid Jogokariyan Yogyakarta).

Hal utama yang dikemukakan Ahmad Badrus adalah Masjid Jogokariyan mencoba hadir di tengah masyarakat. Tidak hanya sebagai wadah untuk beribadah, tetapi hadir juga dalam mensejahterakan masyarakat terutama jamaahnya sendiri. Beberapa program terkait pemberdayaan ekonomi umat yang dilaksanakan, diantaranya adalah pasar sore Ramadhan, peci batik Jogokariyan, angkringan, ATM beras, pelayanan kesehatan/ poliklinik, catering dll. Para jamaah yang mempunyai kamampuan wirausaha dapat memanfaatkan sarana dan prasarana yang telah disediakan oleh pengurus Masjid Jogokariyan untuk berwirausaha. Dan dari hasil usaha ini para jamaah dapat menopang kebutuhan ekonominya.

Dari berbagai video yang tersebar luas, Muhammad Jazir menyebut bahwa konsep utama dari strategi memakmurkan masjid Jogokariyan adalah mengimplementasikan perintah untuk mendirikan sholat dan membayar zakat. Di dalam surat At Taubah ayat 18 disebutkan:

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk.

Kyai Muhammad Jazir kemudian memaknai ayat tersebut sebagai fungsi takmir masjid. Yaitu memobilisasi masyarakat untuk menegakkan shalat berjamaah dan memakmurkan masyarakat agar bisa menjadi pembayar zakat.

Kini fenomena masjid Jogokariyan, mungkin tidak hanya di Kampung Jogokariyan Yogyakarta saja. Banyak terjadi duplikasi di mana-mana. Tentu dengan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda.

Adinda Maharani dari Universitas Ibn Khaldun Bogor melakukan penelitian dan menuliskan hasilnya dalam Jurnal Ekonomi Syariah dan Filantropi Islam Al Urban. Di dalam Jurnal yang dikelola oleh Universitas Hamka itu Adinda menuliskan hasil penelitiannya dengan judul Strategi Masjid dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat Di Masjid Al-Muhajirin Bogor. Dalam penelitian ini Adinda juga menyebutkan hal yang hampir sama. Masjid Al-Muhajirin yang berada di tengah pedesaan memiliki strategi permberdayaan ekonomi umat secara sederhana dengan membantu masyarakat nya dalam hal finansial dan memberikan pinjaman beberapa logistik.

Panglima Thariq Al Huda dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, Malang juga melakukan penelitian dan mempublikasikan hasilnya di sebuah jurnal dengan tema Analisis Peran Masjid Sebagai Pusat Pemberdayaan Ekonomi Umat (Studi Kasus Masjid Agung Jami’ Kota Malang).

Menurut Panglima, Masjid Agung Jami’ Kota Malang dalam pemberdayaan ekonomi umat hanya sebatas melakukan penyaluran dana yang terkumpul sesuai dengan peruntukannya, yaitu untuk dhuafa, anak yatim piatu, operasional serta untuk pembangunan dan pemeliharaan masjid sendiri.

Sementara itu Carolina Imran, mahasiswi Progra Studi Muamalat Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah menulis skripsi dengan judul Masjid Sebagai Sentral Pemberdayaan Ekonomi Umat (Studi di Masjid Ittihadul Muhajirin Perumahan Reni Jaya Pamulang Tangerang. Di Masjid Ittihadul Muhajirin program pemberdayaan ekonomi umat yang direalisasikan adalah koperasi, BMT (Baitul Mal wat Tamwil), tabungan haji dan tabungan qurban, pelayanan kesehatan dan sewa kios. Kegiatan yang cukup berhasil adalah BMT.

Di dalam buku Strategi Memakmurkan Masjid yang diterbitkan oleh Penerbit Hudan Sukoharjo tersebut banyak diceritakan cerita sukses pengelolaan masjid dalam pemberdayaan ekonomi umat. Selain masjid Al Falah, masjid Jogokariyan juga diceritakan bagaimana masjid Al Muhajirin Ambawang di Kalimantan Barat dijadikan masjid untuk kaum musafir. Kemudian Masjid Syeikh Mahmudin di Samarinda yang jamaahnya shalat tarawih dahulu baru kemudian berbelanja di mall Plaza Mulia Samarinda yang terletak di seputar masjid.

Juga masjid Ibaadurrahman di Assalam Hypermarket Kartosuro Sukoharjo yang menjadi tempat mampir para musafir sambil berbelanja di mall.

Konsep pengelolaan masjid Jogokariyan atau pun masjid Al Falah Sragen banyak dinarasikan sebagai upaya pelayanan umat. Misalnya penyediaan ATM beras. Penyediaan penginapan bagi musafir. Takmir mengganti barang jamaah yang hilang di lingkungan masjid. Fasilitas masjid seperti karpet, tempat wudlu, soundsystem dan lain sebagainya dijamin dengan kualitas paling baik. Kemudian juga disediakan makanan dan minuman untuk jamaah 24 jam, penyediaan parkir yang luas, kebersihan masjid yang terjaga, ada free wifi, charge HP, perpustakaan masjid. Bahkan ada hadiah umroh gratis bagi jamaah sholat subuh, tentu saja dengan kriteria tertentu.

Penyelenggaraan event-event yang memang dimaksudkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat sangat jelas kelihatan. Seperti penyelenggaraan pasar atau bazar kuliner di depan masjid saat ramadhan. Juga peneyelenggaraan bazar durian oleh takmir masjid Al Falah Sragen. Bahkan saat-saat tertentu diselenggarakan layanan potong rambut atau cukur gratis bagi laki-laki di lingkungan masjid. Prinsipnya takmir ingin membuat masjid menarik bagi semua umat muslim untuk datang ke masjid.

Di masjid mereka tidak harus mengkaji pengetahuan agama yang berat-berat. Yang penting umat dan warga senang datang ke masjid terlebih dahulu. Baru setelah itu jamaah yang sudah ada di masjid kemudian diajak untuk beribadah sesuai dengan tuntutan.

Kalau kita tilik lebih detail dari konsep pengelolaan masjid Jogokariyan misalnya adalah menyiapkan infrastruktur administrasi dan data terlebih dahulu. Ada pemetaan jamaah masjid. Kemudian dibuat sistem database yang sangat kredibel dan up to date. Menariknya data base jamaah masjid Jogokariyan bahkan lebih lengkap dari pada data warga di kantor kelurahan setempat.

Saat meresmikan Masjid Nurul Jannah, 4 Januari 2023 lalu wali kota Depok, Mohammad Idris melontarkan penyataan yang cukup menggelitik. Mohammad Idris pada intinya berharap kita semua tidak membanggakan masjid karena kemegahan bangunannya. Melainkan harus memakmurkannya. Kita bangga kalau kita bisa memakmurkan masjid kita.

Pesan Mohammad Idris ini rupanya bergulir hingga raker. Karena salah satu pengurus mengatakan bahwa sudah selayaknya pengurus masjid Nurul Jannah mengarusutamakan upaya pemberdayaan ekonomi umat dan warga di sekitar masjid lewat masjid Nurul Jannah ini. Masjid Nurul Jannah dibangun dengan dana APBD. Maka keberadaan masjid ini harus mampu membangun kesejahteraan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi warga masyarakat di sekitar masjid.

Pesan Mohammad Idris juga memperoleh relevansinya dengan konsep yang digaungkan oleh takmir masjid Jogokariyan atau masjid Al Falah Sragen ini. Kira-kira Masjid Nurul Jannah juga harus dikelola dengan berupaya untuk memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar. Tentu dengan penyesuaian terhadap kondisi dan situasi di sekitar masjid Nurul Jannah.

Kalau kita lihat Masjid Jogokariyan dan Masjid Al Falah Sragen berada di kampung atau pemukiman yang terbuka. Sedangkan Masjid Nurul Jannah berada di dalam kompleks perumahan. Kini juga bersinggungan dengan Taman Kota Depok atau Alun-Alun Depok yang merupakan kawasan terbuka. Juga bersinggungan dengan kampung Tambarehe di Kelurahan Kalibaru. Keduanya tidak berhubungan langsung, namun ada akses yang bisa diatur.

Di buku Strategi Memakmurkan Masjid disebutkan bahwa untuk target dakwah masjid perumahan seperti masjid Nurul Jannah adalah warga perumahan tersebut. Sudah sangat jelas. Lebih mudah mengelolanya. Level ekonomi mereka biasanya menengah ke atas. Potensi infaq masjid perumahan lumayan tinggi.

Warga setempat lebih sering berjamaah di masjid waktu shalat maghrib hingga subuh. Mengingat di siang hari mereka kebanyakan bekerja di kota terdekat. Jika siang hari, jamaah shalat biasanya diisi oleh para pendatang yang beraktivitas kerja atau bisnis di dekat masjid.

Pada buku tersebut ada pesan menarik. Cara memakmurkan masjid adalah ketika masjid memiliki program, harus dipastikan jamaah terlibat di dalam program tersebut.

Satu hal lagi adalah bagaimana dana yang berasal dari jamaah harus dikelola dengan baik. Di lakukan transparansi. Dan yang pasti dana itu harus dipakai untuk melayani jamaah. Apabila pengelolaan keuangan sudah baik, maka jamaah tidak segan akan meningkatkan kuantitas infaqnya.

Kas masjid bukan sekedar uang yang dipegang bendahara dan di rekening masjid. Kas masjid itu ada di kantong-kantong jamaah. Ungkapan Ketua Takmir Masjid Raya Al Falah Sragen, Kusnadi Ikhwani yang cukup menarik untuk direnungkan.

SebelumnyaDr KH Mohammad Idris: Umar bin Khattab yang Memutuskan Hijrah Nabi sebagai Awal Tahun HijriyahSesudahnyaHajj Kyoichiro Sugimoto: “Kalau Kita Mengutamakan Akherat, Dunia telah menjamin kehidupan Kita…”
Tidak ada komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Luas Tanah412 m2
Luas Bangunan380 m2
Status LokasiFasilitas umum yang dikuasai Pemkot Depok (girik)
Tahun Berdiri2007