Bagaimana Mengelola Pacaran pada Anak Muda di Bulan Puasa? – Masjid Nurul Jannah Cluster Azalea
  • Mari gunakan aplikasi MASLAM untuk mobile android. Unduh di playstore ** Masjid Nurul Jannah Azalea - masjid pinggir alun-alun Depok
Sabtu, 7 Maret 2026

Bagaimana Mengelola Pacaran pada Anak Muda di Bulan Puasa?

Bagaimana Mengelola Pacaran pada Anak Muda di Bulan Puasa?
Bagikan

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi wa barakaatuh. Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa ta’ala. Alhamdulillah kita masih diberi kekuatan dan kesehatan untuk menjaga ibadah puasa di hari yang ke-11 di bulan suci Ramadan ini. Sholawat serta salam semoga senantiasa kita curahkan kepada Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Biasanya di hari-hari ini. Di hari kesebelas dan seterusnya, tantangan kita bukan lagi rasa lapar di perut. Tetapi tantangan sebenarnya adalah rasa bosan atau lelah di hati.Kita mulai terbiasa dengan rutinitas puasa itu sendiri. Sehingga kita lupa menjaga kualitas ibadah kita sendiri.

Berbicara tentang menjaga kualitas hati, ada satu fenomena yang sering kita anggap remeh. Namun sebenarnya sangat mempengaruhi kebocoran pahala puasa kita. Terutama bagi kita yang masih muda. Atau bagi orang tua yang memiliki anak cucu yang sedang beranjak dewasa. Tentang bagaimana kita mengelola rasa suka atau yang biasa kita sering kenal sebagai aktivitas berpacaran di bulan puasa yang suci ini. Mari kita jujur pada diri sendiri.

Jika kita bedah secara logika duniawi saja, tanpa membawa agama dahulu. Pacaran itu aktivitas yang tidak efisien dan merugikan diri sendiri. Menurut saya pacaran itu membuang waktu dan tenaga. Jadi waktu yang seharusnya bisa kita pakai untuk belajar untuk mengasah skill atau kita berbakti kepada orang tua, namun habis hanya untuk memikirkan chat yang tidak dibalas atau bertengkar karena hal-hal sepele. Atau hal-hal yang membuang energi dan waktu kita.

Yang kedua pacaran itu kedua pacaran tuh menguras emosional. Kita membiarkan suasana hati kita disetir oleh orang lain yang belum tentu menjadi pasangan sah kita. Belum lagi soal biaya. Berapa banyak uang saku atau hasil kerja keras kita yang habis hanya untuk pencitraan di depan pacar. Padahal orang tua kita itu, berharap kita berhemat. Kita justru melakukan investasi besar-besaran pada orang yang statusnya mungkin akan milik orang lain. Namun kerugian materi itu belum seberapa dibanding kerugian harga diri. Seringkali kita hanya berkata:”ah kita hanya jalan-jalan saja kok.” Tapi ingatlah syaithon itu sangat sabar. Hubungan ikatan yang tidak sah yang dibiarkan terlalu lama, akan menciptakan zona nyaman yang semu. Dari yang awalnya hanya berbalas chat, kemudian naik pertemuan. Lalu berani pertemuan berduaan di tempat yang sepi. Di titik itulah logika dan rasa malu itu seringkali kalah oleh hawa nafsu.

Sebenarnya ini sudah diingatkan oleh Allah SWT dalam surat Al Isra’ ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا 

Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.

Allah SWT tidak hanya berfirman jangan berzina, tapi jangan mendekati zina.

Pacaran dengan segala interaksi di dalamnya yang belum halal, mulai dari pandangan mata, percakapan mesra di media sosial, hingga pertemuan berdua-duaan. Itu adalah pintu-pintu yang mendekatkan kita pada hal tersebut. Bayangkan kita sudah susah payah menahan lapar dan haus dari terbit fajar, tetapi pahala kita terkikis habis hanya karena kita sibuk mencari perhatian dari manusia yang belum tentu menjadi jodoh kita.

Sementara kita mengabaikan perhatian dari orang tua, dan juga dari Allah yang telah memberikan nafas hingga detik ini. Sebagai sesama nak muda dan juga jamaah ini, saya ingin mengajak kita semua, mari kita jadikan bulan suci Ramadhan ini sebagai momentum untuk istirahat sejenak dari hubungannya yang tidak pasti.

Jika memang rasa itu ada, kita punya rasa suka, maka apa yang bisa kita lakukan? Titipkanlah kepada Allah lewat do’a di sujud-sujud malam kita.

Itu jauh lebih mulia dan terjaga. Jangan sampai nih bulan Ramadan kita yang berlalu gitu saja hanya menyisakan lelah dan lapar. Tanpa membawa pulang ampun atau maghfiroh, hanya karena hati kita yang masih sibuk dengan urusan ke lainnya.

Demikian kultum ini kita tutup dengan do’a kafaratul majelis. Subhaanaka Allaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh


*) naskah ini merupakan kultum subuh 1 Maret 2026.

Dibawakan oleh: Farel Muzzaky Nasfi, mahasiswa Informatika Universitas Gunadarma Depok, Ketua Karang Taruna Azalea, warga RT 03

SebelumnyaMenuju Masjid Modern: Transformasi Digital Masjid Nurul Jannah Capai 80%SelanjutnyaTingkatkan Layanan dan Pemberdayaan Umat, Masjid Nurul Jannah Azalea Resmi Menjadi Anggota DMI Kota Depok
Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Nurul Jannah
Jalan Boulevard GDC Cluster Azalea Jatimulya Cilodong Depok Jawa Barat 16413. SIMAS: 01.4.13.23.08.000034 http://s.id/masjidnuruljannah
Luas Area412 m2 m2
Luas Bangunan380 m2 m2
Status LokasiFasilitas umum yang dikuasai Pemkot Depok (girik)
Tahun Berdiri2007