Ketika Masjid Belajar Menemukan Suaranya di Dunia Digital
Review atas buku Menghadirkan Website Masjid dengan CMS WordPress tulisan Lais Abid
Pada suatu sore, adzan Asar baru saja merambat dari pengeras suara di sebuah masjid kecil di pinggir kota. Hembusan angin membawa aroma tanah basah dan suara bocah-bocah yang baru pulang sekolah. Masjid itu tak besar, tetapi sibuk menjalankan fungsinya sebagai rumah singgah rohani bagi siapa saja yang datang. Di salah satu sudut halaman, papan pengumuman dari triplek masih tergantung, pudar warnanya, memajang jadwal pengajian yang ditulis dengan spidol yang telah mulai mengering.
Di tempat-tempat seperti inilah kita bisa merasakan denyut kehidupan yang paling sederhana. Tetapi pada saat yang sama, kita menyadari betapa dunia sudah bergerak jauh dari papan pengumuman. Orang-orang mungkin lewat di depan masjid ini setiap hari, namun sebagian besar mencari informasi lewat layar ponsel. Di zaman ketika satu sentuhan bisa membawa kita ke kota lain, papan kayu itu seperti tersisa dari masa yang terlalu jauh.
Pertanyaan pun muncul dengan sendirinya: apakah masjid masih memiliki suara di tengah hiruk-pikuk arus informasi digital?
Pertanyaan serupa menjadi titik berangkat buku Menghadirkan Website Masjid dengan CMS WordPress tulisan Lais Abid, sebuah karya yang mencoba menjembatani dunia lama masjid—yang penuh tradisi—dengan dunia baru yang berdenyut melalui internet. Buku ini tidak sekadar mengajarkan cara membuat situs web; ia menantang kita untuk membayangkan kembali bagaimana masjid dapat hadir dan berinteraksi dengan jamaah di era digital.
Masjid yang Tak Terlihat di Peta Digital
Indonesia memiliki sekitar delapan ratus ribu masjid. Jumlah yang demikian besar membuat kita berpikir seharusnya masjid mudah ditemukan di manapun. Namun kenyataannya berbeda. Dalam perjalanan panjang dari kota ke kota, seringkali kita lebih dulu menemukan minimarket ketimbang masjid. Jamaah musafir yang mengandalkan pencarian digital sering kebingungan karena sebagian besar masjid tidak memiliki alamat daring, tidak terindeks mesin pencari, bahkan tidak tercatat dalam peta digital.
Padahal masjid bersifat universal. Tidak perlu menjadi warga setempat untuk singgah dan salat. Namun tanpa informasi digital, masjid-masjid itu seolah hilang dari pandangan mereka yang mengandalkan telepon genggam.
Lais Abid melihat situasi ini sebagai sebuah ironi. Baginya, masjid justru membutuhkan ruang informasi yang stabil, mandiri, dan tidak bergantung pada algoritma media sosial atau halaman orang lain. Website, menurutnya, adalah bentuk kedaulatan informasi masjid yang paling mungkin diwujudkan.
Website dapat menjadi rumah bagi pengumuman penting, pusat laporan kegiatan, tempat jamaah mencari jadwal salat, bahkan wadah transparansi keuangan. Sesuatu yang selama ini di banyak masjid masih dilakukan dengan lembaran kertas yang ditempel di dinding.
Masjid dan Kebutuhan Akan Ruang yang Jujur
Di balik dorongan teknis dalam buku ini, ada gagasan yang lebih dalam. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga institusi sosial yang mengandalkan kepercayaan jamaah. Kepercayaan itu tumbuh lewat transparansi. Lewat laporan keuangan yang dapat diakses jamaah kapan saja. Lewat pengumuman kegiatan yang jelas. Lewat cara masjid membuka diri, bukan menutupinya.
Karena itu, buku karya Lais Abid menempatkan transparansi bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai jantung dari kehadiran digital masjid. Tema WordPress yang ia bahas, WP Masjid, menyediakan fitur laporan infaq, laporan wakaf, jadwal petugas Jum’at, agenda kegiatan, hingga tautan video—semua disusun agar jamaah tidak lagi bertanya-tanya bagaimana dana masjid dikelola atau siapa yang bertugas memimpin salat Jumat.
Di beberapa masjid yang lebih dulu menerapkannya, laporan keuangan mingguan kini bisa diakses lewat ponsel. Jamaah tidak perlu menunggu petugas sholat Jumat membacakan laporan secara singkat. Mereka bisa memeriksanya langsung setiap hari, tanpa kekhawatiran laporan itu berubah atau dihapus.
Transparansi semacam ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya mendasar. Ia menandai perubahan cara masjid berkomunikasi—dari institusi yang hanya berbicara satu arah, menjadi lembaga yang membuka percakapan dua arah dengan jamaahnya.
Dari Domain Hingga Desain: Perjalanan Masjid menuju Dunia Maya
Dalam buku ini, Lais Abid membawa pembaca seperti duduk di sebelahnya sambil memegang laptop. Ia tidak berangkat dari teori besar, tetapi dari hal paling sederhana: apa itu domain, bagaimana menyewa hosting, bagaimana menginstal WordPress, dan bagaimana masuk ke halaman admin yang menjadi tulang punggung website. Semua ditulis dengan ritme yang sabar, disertai analogi rumah dan alamat untuk menghindari kesan teknis yang mengintimidasi.
Langkah demi langkah itu membuat para takmir, relawan, atau pemuda masjid bisa belajar tanpa merasa tersesat. Bagi sebagian masjid, proses ini menjadi pengalaman pembelajaran bersama. Seorang pemuda mengurus domain, yang lain mencari foto-foto kegiatan, sementara takmir memasukkan informasi jadwal salat atau nama imam harian.
Website tidak jadi dalam semalam. Tetapi ketika halaman depan mulai terbentuk—dengan slider gambar, jadwal salat yang berganti otomatis, dan ikon WhatsApp yang bisa langsung menghubungkan jamaah ke pengurus—ada rasa bangga yang tumbuh. Masjid kini memiliki wajah digitalnya sendiri.
Saat Masjid Mengembangkan Sayap: YouTube, Podcast, dan QRIS
Ada bagian menarik dalam buku ini yang memperlihatkan pemahaman penulis terhadap dunia digital masa kini. Setelah website berdiri, Lais Abid mengajak masjid melangkah lebih jauh.
Masjid bisa memiliki kanal YouTube dan menghubungkannya dengan situs web. Kajian yang direkam lewat ponsel dapat ditayangkan secara otomatis di halaman khusus “Televisi Masjid”. Pengurus juga bisa mengunggah rekaman kajian dalam bentuk audio, semacam podcast sederhana yang memungkinkan jamaah memutar ulang materi di perjalanan pulang kerja.
Integrasi teknologi itu tidak hanya menambah fungsi, tetapi juga memperluas jangkauan dakwah. Ada jamaah lansia yang tidak kuat datang malam-malam menghadiri kajian, tetapi kini bisa menyimaknya dari rumah. Ada anak rantau yang ingin tetap terhubung dengan masjid kampungnya, dan website menjadi jembatan emosional itu.
Tidak berhenti di situ, buku ini juga mengajarkan pemasangan QRIS—sebuah inovasi kecil yang membawa dampak besar. Donatur dari kota lain kini bisa menyumbang cukup dengan memindai kode di layar. Ini bukan sekadar kemudahan teknis; ini membuka pintu agar lebih banyak orang bisa memakmurkan masjid bahkan dari kejauhan.
Masjid dan Percakapan yang Lebih Manusiawi
Ada satu hal yang tak boleh dilupakan: masjid bukan hanya institusi; ia adalah organisme sosial. Ia hidup dari ritme harian jamaahnya, dari percakapan kecil setelah salat, dari keluhan seorang bapak tentang pengeras suara yang kurang nyaring, dari pesan seorang ibu tentang kajian yang terlewat.
Lais Abid memahami dinamika ini, sehingga dalam panduannya ia menekankan pentingnya integrasi WhatsApp. Nomor takmir atau humas bisa ditampilkan secara elegan di halaman depan website. Ketika pengunjung menekan tombol itu, mereka langsung diarahkan ke percakapan. Interaksi pun berjalan tanpa hambatan.
Fitur ini sederhana, tetapi sangat manusiawi. Masjid bukan lagi bangunan yang menjawab dari kejauhan, tetapi sosok yang bisa disapa lewat ponsel kapan saja.
Website dan Masa Depan Masjid
Yang ditawarkan buku Menghadirkan Website Masjid dengan CMS WordPress bukan sekadar panduan teknis, melainkan visi tentang masa depan. Masa depan di mana masjid tidak hanya berdiri megah di dunia nyata, tetapi juga hadir penuh martabat di dunia maya.
Dalam pandangan Lais Abid, dakwah digital bukan persaingan melawan media sosial yang riuh, melainkan upaya memperluas jangkauan kebaikan. Ia adalah cara masjid merangkul mereka yang jarang hadir, mereka yang tinggal jauh, mereka yang mencari cahaya dalam gelapnya linimasa.
Website masjid mungkin tidak membuat suasana lebih heboh, tetapi ia membuat masjid tampak dan terdengar. Ia menjadikan masjid bagian dari perbincangan publik yang selama ini terlalu pengap oleh berita politik dan hiruk pikuk selebritas.
Dan ketika sebuah masjid—kecil atau besar—akhirnya memiliki website yang diperbaharui secara rutin, dunia digital menjadi lebih bersih setitik. Ada secercah ketenangan yang ikut mengalir di antara arus informasi.
Pada Akhirnya: Ruang yang Harus Dirawat
Buku ini menegaskan bahwa dunia digital bukan ruang yang netral. Ia adalah ruang yang harus dirawat dan diisi dengan nilai, etika, dan kebaikan. Masjid, sebagai salah satu institusi moral masyarakat, memiliki peran penting di dalamnya.
Kita mungkin tidak lagi melihat jamaah berdesakan membaca papan pengumuman usai salat, tetapi kita melihat mereka membuka ponsel, membaca jadwal kajian, dan mengetahui ke mana infak mereka disalurkan. Kita melihat anak-anak muda menonton ulang ceramah ba’da Maghrib lewat YouTube masjid. Kita melihat donatur dari luar kota tersenyum ketika berhasil menyalurkan infak lewat QRIS.
Dan pada titik itulah, masjid menemukan suaranya kembali—suara yang lembut tetapi hadir di ruang yang sebelumnya tidak dikenalnya.
Sebuah suara yang kini bisa didengar oleh siapa saja yang mencarinya.
