• Informasi yang ada di website ini juga ditampilkan di monitor televisi yang terpasang di dalam masjid
Jumat, 24 Mei 2024

Membangun Masjid Ramah Anak

Membangun Masjid Ramah Anak
Bagikan

Membangun masjid ramah anak, akan lebih baik jika dimulai dari membangun lingkungan sosial yang kondusif di masjid.

Masjid menempati posisi yang strategis di masyarakat. Bagaimana suatu masjid dalam sebuah masyarakat mencerminkan kekhasan masyarakat tersebut. Semarak keberagamaan, aliran keagamaan, bahkan kebudayaan, dapat dibaca salah satunya melalui masjid. Selain menjadi pusat ibadah, masjid menjadi satu dari sekian sarana untuk memberdayakan masyarakat, tak terkecuali anak-anak.

Lingkungan masjid merupakan tempat yang pas untuk mendidik anak. Pendidikan Al-Qur’an atau taman baca Al-Qur’an tak lepas dari masjid. Kegiatan-kegiatan bernuansa Al-Qur’an menjadi menarik apabila dilaksanakan di masjid. Maka tidak salah jika dikatakan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang ikut meramaikan masjid.

Selain menjadi tempat belajar Al-Qur’an, masjid juga tempat mereka bermain. Tak jarang masjid di Indonesia menyediakan tempat bermain bagi anak-anak di pekarangan masjid. Ini tentu memberikan dampak yang sangat positif, karena masjid menjadi salah satu pengisi memori anak-anak. Jika kita masih menemukan hal ini di masyarakat, maka perlu menjadi sebuah kesyukuran. Bagaimana tidak, saat ini karena pengaruh zaman, anak-anak lebih sering bermain dengan gawai dan terkurung dalam ruang sempit daripada bermain bebas lepas di ruang terbuka bersama teman-teman.

Seringkali kita temukan masjid-masjid yang penuh dengan anak-anak di waktu shalat fard-hu. Bagi sebagian orang, ini sangat mengganggu. Anak-anak kerap berteriak-teriak, bermain dan berlari saat shalat berlangsung. Hal ini dinilai mengganggu kekhusyukan jama’ah shalat lainnya. Kendati demikian, ada beberapa hal positif yang dapat diambil dari fenomena ini.

Jika di masjid ditemukan banyak anak-anak pada waktu shalat, berarti mereka memiliki keterikatan dengan masjid. Jika waktu shalat tiba, hal pertama yang terpatri pada ingatan mereka adalah mendatangi masjid, terlepas mereka bermain atau tidak di waktu shalat. Tentu ini adalah pertanda baik. Anak-anak pada akhirnya akan terbiasa ke masjid setelah mendengaar suara adzan.

Rasulullah shallallahu `alayhi wasallam pernah membawa Umamah binti Zainah yang kala itu ma-sih anak-anak ke masjid. Ini mengisyaratkan kebolehan membawa anak-anak ke masjid. Para ulama’ pun sepakat tentang hukum asal membawa anak kecil ke masjid, yaitu dibolehkan. Sebagian ada yang ber-pendapat makruh dengan beberapa ketentuan, namun tidak sampai melarang membawa anak kecil ke masjid.

Selanjutnya, yang menjadi tugas kita sebagai orang dewasa adalah melakukan control terhadap anak-anak di masjid. Membangun masjid ramah anak, akan lebih baik jika dimulai dari membangun lingkungan sosial yang kondusif di masjid. Orang dewasa seharusnya dapat mendampingi setiap anak yang pergi ke masjid. Pendampingan ini tidak hanya berarti untuk orang tua, melainkan untuk semua orang dewasa aqil baligh. Dengan memisahkan anak-anak dari teman-temannya selama di masjid, dan menempatkannya diantara orang dewasa, ini akan mengontrol kebisingan di masjid. Pongontrolan semacam ini membutuhkan kesadaran kolektif dari setiap anggota masyarakat.

Selain melakukan pengontrolan secara kolektif di masjid, orang tua juga perlu menasehati anak-anak saat di rumah. Orang tua diharapkan memberikan pengarahan terhadapa anak, apa yang harus dilaku-kan oleh anak saat di masjid. Kedua hal ini, penga-wasan sosial dan pembekalan oleh orang tua, harus berjalan secara bedampingan.

Arsitektur masjid juga berpengaruh dalam mewujudkan masjid ramah anak. Masjid yang memiliki serambi dan halaman, cenderung lebih dapat mengurangi resiko keributan di waktu shalat. Anak-anak bermain di ruang ibadah karena mereka tidak memiliki cukup ruang untuk mengekspresikan keinginan bermain mereka. Hal ini juga menjadi salah satu tantangan. Minimnya lahan untuk membangun masjid, seringkali menyisakan lahan yang hanya cukup un-tuk ruang ibadah.

Bagaimanapun, kehadiran anak-anak di masjid harus disambut dengan baik. Mereka merupakan generasi penerus. Jika tak dibiasakan braktivitas di masjid, bisa jadi ketika mereka branjak dewasa, tak termotivasi untuk menghidupkan rumah Allah.

Oleh Achmad Resa Pengurus Harian Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara/Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Filsafat UGM

Sumber: Majalah Gontor, Sya’ban-Ramadhan 1444H/ Maret 2023 Edisi 11 Tahun XX

SebelumnyaGelar Serangkaian Kegiatan, Katar Azalea Sambut Ramadhan 1444 HSesudahnyaMasjid Harus Ramah Anak
Tidak ada komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Luas Tanah412 m2
Luas Bangunan380 m2
Status LokasiFasilitas umum yang dikuasai Pemkot Depok (girik)
Tahun Berdiri2007