• Informasi yang ada di website ini juga ditampilkan di monitor televisi yang terpasang di dalam masjid
Minggu, 19 Mei 2024

Puncak-puncak Bangunan Masjid

Puncak-puncak Bangunan Masjid
Bagikan

SEBUAH pendapat mengatakan, jika ingin mengetahui perkembangan Islam di Indonesia, lihatlah puncak-puncak bangunan masjidnya. Dari puncak bangunan masjid tersebut, setidaknya bisa diperkirakan, kapan atau pada era mana masjid tersebut dibangun. Walau pendapat itu tidak seluruhnya benar, kenyataan selama ini memperlihatkan, sebagai tempat ibadah, masjid secara evolutif telah mengalami perkembangan. Baik pada tampilan atap bangunannya maupun elemen-elemen bagian dalam, dengan ornamen-ornamen yang menonjolkan ciri Islami sebagaimana hiasan kaligrafi pada dinding-dindingnya.

Di Jawa Barat, bentuk dan tampilan atap bangunan masjid pada umumnya sangat beragam, sesuai perkembangan zaman ketika masjid tersebut dibangun. Masjid-masjid pada generasi awal yang dibangun di pusat-pusat kota kuno bekas kerajaan Islam misalnya, dijumpai di Banten dan Cirebon.

Bangunan Masjid Agung Kasepuhan “Sang Cipta Rasa” Cirebon misalnya, ditandai dengan bentuk atap limasan bersusun tiga yang ditumpu oleh saka rolas atau tiang dua belas. Masjid Agung “Sang Cipta Rasa” dibangun pada tahun 1480 atas prakarsa Nyi Ratu Pakungwati dan dibantu oleh Walisongo serta beberapa tenaga ahli yang dikirim Raden Fatah.

Pintu gerbangnya menyerupai gapura paduraksa dengan daun pintu terbuat dari kayu berukir gaya Jawa Kuno. Melihat bentuk lengkung dan kaligrafi gaya Kufa yang terletak di atas pintu gerbangnya, bangunan tersebut mengesankan akulturasi arsitektur Islam dan Jawa. Sedangkan bagian dalamnya didominasi warna Tiongkok yang dituangkan dalam hiasan tempelan piring keramik warna merah dan biru.Masjid Agung Banten yang didirikan Sultan Maulana Jusuf pada tahun 1566, putra Sultan Maulana Hasanudin, memiliki bentuk atap menyerupai trapesium bertingkat dan bersusun lima. Bentuk atap bersusun lima itu, mungkin dimaksudkan oleh pendirinya sebagai Rukun Islam.

Terletak di bekas ibu kota Kerajaan Banten Lama, Masjid Agung Banten dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 0,13 ha. Yang menarik, masjid tersebut dilengkapi bangunan menara setinggi 23 meter yang hingga kini berdiri tegak dan menjadi salah satu cirinya. Untuk mencapai puncak menara, setiap pengunjung harus melewati lorong kecil yang hanya cukup dilalui satu orang dan kemudian menaiki 88 anak tangga.

Bangunan tanpa tiang penyangga itu sekaligus mempunyai fungsi lain.Jika seseorang berdiri di atasnya, maka akan terlihat pemandangan tanpa batas ke laut Jawa dan daerah sekitar Kerajaan Banten Lama.Bisa dipahami jika menara tersebut sekaligus dijadikan tempat mengintai musuh dan mengawasi lalu lintas kapal di Teluk Banten.

DIILHAMI pengalaman dari berbagai negara di Timur Tengah sebagai pusat-pusat Islam, maka puncak bangunan masjid mengalami perkembangan evolutif yang ditandai dengan munculnya bentuk kubah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kubah berarti atap yang melengkung setengah lingkaran (kupel). Kubah berfungsi sebagai penutup ruang tengah yang menjadi inti, sekaligus menunjukkan tampilan bangunan tersebut tampak lebih menonjol.

Bangunan Masjid Agung Bandung yang dibangun pada tahun 1812, setelah mengalami beberapa kali perombakan, pernah mengalami puncak bangunannya berupa kubah. Namun, pada mulanya bangunannya hanya merupakan bangunan panggung tradisional sederhana. Konstruksi bangunan berubah setelah tahun 1826 dan 1850 dengan atap susun tiga yang lebih dikenal dengan sebutan bale nyungcung.

Bentuk atap tersebut makin jelas setelah mengalami renovasi berikutnya pada tahun 1875. Namun, setelah mengalami beberapa perubahan dan sekaligus tambahan bangunan, pada periode 1955, bangunan Masjid Agung Bandung memasuki perombakan dengan dibangunnya kubah bawang menggantikan bentuk dari corak susun atap tradisional. Hanya bertahan selama 15 tahun, bentuk kubah ditinggalkan lalu digantikan dengan bentuk atap susun dua. Setelah lebih dari dua puluh tahun, dalam pembangunannya yang dimulai 25 Februari lalu, masjid yang terletak di pusat kota tersebut kembali akan memiliki kubah.

Kubah induk dibangun di atas puncak bangunan utama dan dua kubah lainnya yang disebut kubah kembar yang bentuknya lebih kecil, dibangun di atas puncak bangunan baru yang terletak di depan bangunan masjid yang lama. Ketiga kubah tersebut akan memberi nuansa Islam yang kuat, di samping dua buah menara setinggi 99 meter di kiri-kanannya.

Bentuk kubah juga kemudian digunakan setelah sebelumnya Masjid Persatuan Islam (Persis) yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan dibangun kembali dari bentuk atap semula bersusun dua. Sebaliknya Masjid Agung Karawang yang mengalami perombakan total pada tahun 1990, tetap mempertahankan atap bangunannya yang berbentuk joglo. Masjid tersebut pada awalnya merupakan langgar kecil yang dibangun Syeh Quro ketika menyebarkan agama Islam di daerah Karawang pada tahun 1418. Bahwa bentuk atapnya tetap dipertahankan seperti semula, sebenarnya lebih mengandung makna filosofis. Dengan mempertahankan atap joglo seperti semula diharapkan, semangat juang dan semangat mengayomi yang telah dicontohkan Syeh Quro dan ulama penerusnya merupakan contoh yang harus ditiru.

Bentuk atap bersusun juga masih tetap dipertahankan Masjid Raya Cipaganti yang mulai dibangun 11 Syawal 1351 (7 Februari 1933) dan diresmikan 11 Syawal 1352 (27 Januari 1934). Hasil rancangan arsitek Prof Wolff Schoemaker itu pernah mengalami rehabilitasi dan pengembangan sejak 2 Agustus 1979-31 Agustus 1988. Namun, hal itu sama sekali tidak mengubah bentuk atapnya.

SEMANGAT membangun kubah pada abad 20 rupanya tak mempengaruhi pemikiran para perencana yang membangun masjid modern seperti tampilan puncak Masjid Salman Institut Teknologi Bandung dan Masjid Islamic Center di Bandung.

Kedua bangunan masjid tersebut telah memperkaya arsitektur masjid sehingga memungkinkan lahirnya dimensi-dimensi baru. Bentuk atap Masjid Islamic Center yang bersusun, mengingatkan pada bangunan-bangunan penting dan simbolik, sebagaimana tampilan atap Gedung Sate yang jadi pusat pemerintahan daerah Jawa Barat. Konon, tidak dipilihnya atap berkubah karena bisa membawa akibat sampingan yang tidak sedikit. Antara lain, bangunan-bangunan di sekitarnya harus berbentuk bulat atau datar sama sekali, sehingga tampilan bangunan utamanya yang berkubah tetap tampak dominan atau serasi. (Her Suganda)

Sumber: Kompas, Minggu, 8 April 2001

SesudahnyaPemberdayaan Masjid Sebagai Pusat Pensejahteraan Masyarakat
Tidak ada komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Luas Tanah412 m2
Luas Bangunan380 m2
Status LokasiFasilitas umum yang dikuasai Pemkot Depok (girik)
Tahun Berdiri2007