Tujuh Orang di Saf Terakhir: Kisah Sunyi Shalat Jenazah di Masjid Nurul Jannah
Ahad pagi, 1 Februari 2026, Masjid Nurul Jannah Azalea masih berada dalam suasana tenang. Aktivitas jamaah belum ramai ketika sebuah mobil jenazah berhenti di halaman masjid. Mobil itu bukan mobil ambulans rumah sakit, melainkan mobil jenazah gratis yang selama ini dikenal warga Depok sebagai Mobil Jenazah Gratis Bang Matjan Bershalawat.
Di dalam mobil itu, terbujur jenazah seseorang –belum diketahui jenis kelaminnya. Hanya ada 2 orang kerabat jenazah yang mengantar. Tak ada pelayat. Tak ada isak tangis. Hanya enam orang yang akhirnya berdiri di saf shalat jenazah (selain imam).
Sekitar pukul 10.19 WIB, Pak Budi, staf bidang pengurusan kematian DKM Masjid Nurul Jannah, mengirim pesan singkat ke grup WhatsApp pengurus DKM. Pesannya sederhana dan penuh adab:
“Assalamu alaikum… ijin mau numpang sholatin jenazah di masjid pak…”
Pesan itu belum sempat direspons. Ketua DKM saat itu tidak sedang memegang telepon genggam. Namun jenazah sudah terlanjur dibawa ke Masjid Nurul Jannah. Waktu tidak bisa menunggu.
Pak Budi kemudian meminta bantuan khadim masjid, Ustadz Deden Firdaus, untuk memimpin shalat jenazah. Maka shalat itu pun dilaksanakan, sunyi dan singkat. Yang berdiri sebagai makmum hanya 6 orang: Shaf depan 3 orang: Bang Matjan dan 2 orang kerabat almarhum. Shaf belakang 3 orang:
Welly(Ketua Bidang pengurusan kematian dan sosial DKM Nurul Jannah), Budi, dan Firman (relawan motor)
Tujuh orang, satu jenazah, dan sebuah kisah hidup yang memilukan.
Telepon Tengah Malam dari Rumah Singgah
Menurut penuturan Bang Matjan, kisah ini bermula sejak malam sebelumnya. Sabtu malam, 31 Januari 2026, ia menerima telepon dari petugas Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Depok. Di seberang sana, suara petugas meminta bantuan.
Ada seorang warga binaan rumah singgah yang meninggal dunia. Jenazah berada di RSUD Depok, Sawangan. Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi. Tidak ada pihak yang mengurus. Petugas meminta bantuan penuh—mulai dari penjemputan jenazah, pengurusan administrasi, hingga penyelenggaraan shalat dan pemakaman.
Bang Matjan mengiyakan. Seperti banyak kasus sebelumnya.
Jenazah tersebut diketahui merupakan seorang tunawisma yang sebelumnya tinggal di rumah kontrakan sederhana. Sekitar sebulan lalu, ia diusir karena tak mampu membayar sewa. Dalam kondisi sakit dan tanpa tempat tinggal, ia kemudian ditampung di rumah singgah Dinas Sosial. Di sanalah ia menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya, hingga akhirnya meninggal pada Sabtu malam.
Saat numpang di rumah singgah, tidak ada keluarga yang datang. Tidak ada kerabat yang merawat. Hanya kakak kandung yang tinggal di Tangerang dan paman yang tinggal di Jalan Saharjo Jakarta Selatan yang sempat datang dan mengurus jenazahnya. Itupun setelah dikabarkan yang bersangkutan meninggal. Ia wafat sebagai seorang yang sendiri.
Bang Matjan dan Mereka yang Pulang Tanpa Rumah
Apa yang dilakukan Bang Matjan pagi itu bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun, mobil jenazah gratis yang ia kelola telah membantu ratusan, bahkan ribuan warga Depok—khususnya mereka yang miskin, terlantar, atau tak memiliki keluarga.
Bukan hanya mengantar jenazah, Bang Matjan kerap memastikan satu hal penting: bahwa setiap jenazah tetap dimuliakan. Dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan dengan layak, sebagaimana ajaran Islam.
“Yang penting jenazah tidak sendirian,” begitu prinsip yang sering ia sampaikan. Karena bagi Bang Matjan, memuliakan orang mati adalah kewajiban orang hidup.
Shalat jenazah dengan tujuh orang di Masjid Nurul Jannah pagi itu mungkin terlihat sepi. Namun di sanalah nilai kemanusiaan dan solidaritas umat diuji. Ketika negara hadir lewat rumah singgah, dan masyarakat hadir lewat tangan-tangan relawan, jenazah itu akhirnya tetap pulang—bukan ke rumahnya, tapi ke peristirahatan terakhirnya—dengan doa.
Sunyi untuk Kita Semua
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di sekitar kita masih ada orang-orang yang hidup dan wafat dalam kesendirian. Masjid, relawan, dan masyarakat menjadi benteng terakhir agar mereka tetap dimanusiakan.
Tujuh orang di saf shalat jenazah itu bukan sekadar angka. Mereka adalah saksi bahwa kepedulian tidak selalu hadir dalam keramaian, tapi sering justru lahir dalam kesunyian.
Masjid Nurul Jannah pagi itu menjadi tempat persinggahan terakhir bagi seseorang yang semasa hidupnya kehilangan rumah. Dan doa-doa pendek yang dipanjatkan mungkin menjadi bekal terpanjang yang pernah ia miliki.
