Kencleng dan Proyektor, Arah Baru Masjid Nurul Jannah
Ahad pagi, 11 Januari 2026, Masjid Nurul Jannah di Grand Depok City terasa berbeda. Pukul delapan tepat, rapat kerja Dewan Kemakmuran Masjid dimulai tanpa tumpukan map, tanpa berkas kertas. Seluruh bahan rapat telah disiapkan dalam bentuk file presentasi dan dipaparkan melalui proyektor. Sebuah penanda kecil, namun bermakna, bahwa masjid ini sedang belajar memulai perubahan dari hal-hal yang paling dekat.
Rapat kerja yang berlangsung hingga pukul 12.00 WIB itu dibuka oleh Penasehat Yayasan Nurul Jannah, Ustadz Darso. Sebelumnya, Ketua RW 06 Azalea, H. Ibnu Salim Prasodjo, S.E., M.M., menyampaikan sambutan. Ia menyinggung peran dan tanggung jawabnya sebagai Ketua RW dalam membantu pengelolaan masjid, terutama terkait penarikan infaq warga Azalea melalui Kencleng Tabah. Bagi Ibnu Salim, kencleng bukan sekadar alat penghimpun dana, melainkan simbol partisipasi warga dalam merawat masjid bersama.

Rapat kerja ini turut dihadiri Ketua RT 01 Darul Makhasinul Akhlak dan Ketua RT 03 Syamsul Bahri. Ketua RT 02 berhalangan hadir. Kehadiran para pengurus wilayah tersebut menegaskan posisi masjid sebagai simpul sosial yang hidup di tengah warga, bukan entitas yang berdiri sendiri.
Salah satu keputusan penting yang mengemuka adalah perubahan struktur otoritas pengelolaan. Jika sebelumnya DKM Nurul Jannah berada di bawah RW, kini secara resmi berada di bawah Yayasan Nurul Jannah. Perubahan ini diikuti dengan penataan ulang struktur kepengurusan. Bidang kewanitaan kini dikoordinasikan langsung oleh ketua bidang. Sementara itu, bidang keamanan ditiadakan karena kewenangan keamanan akan sepenuhnya berada dalam sistem keamanan RW 06 Azalea.
Rapat kerja ini juga menandai revitalisasi bidang ekonomi dan logistik yang dikoordinasi oleh Ahyar Sulhan. Bidang ini akan mengelola penarikan Kencleng Tabah sekaligus menghidupkan kembali wacana pemberdayaan ekonomi jamaah. Isu ini sebenarnya pernah muncul pada periode sebelumnya, namun belum memiliki ruang eksekusi yang jelas. Kali ini, wacana tersebut mulai menemukan bentuk melalui rencana kegiatan turunan berupa pelatihan UMKM jamaah, dengan tujuan jangka panjang mewujudkan kemandirian ekonomi DKM dan jamaah masjid.

Dalam paparannya, Ketua DKM Nasburi juga menyinggung komitmen masjid terhadap isu lingkungan. Salah satunya adalah rencana mengurangi penggunaan backdrop plastik sekali pakai dalam setiap kegiatan. Ke depan, desain backdrop akan ditampilkan melalui proyektor. Selain itu, DKM juga mengupayakan penggunaan tumbler yang dapat dipakai berulang kali untuk menggantikan gelas plastik pada suguhan acara kajian. Langkah ini dimaksudkan sebagai kontribusi Masjid Nurul Jannah dalam upaya pengurangan sampah, sejalan dengan wacana nasional menuju zero waste tahun 2040 seperti pernah disampaikan Presiden Prabowo.
Nasburi juga memaparkan gambaran kebutuhan anggaran tahunan DKM untuk menopang berbagai program ibadah, sosial, dan pemberdayaan jamaah. Transparansi dan perencanaan menjadi kata kunci agar kegiatan masjid berjalan berkelanjutan.
Isu sosial turut menjadi perhatian serius. Bantuan sosial yang selama ini disalurkan kepada anak-anak yatim di RT 02 Kampung Tambarehe, Kalibaru, akan dihentikan dan dialihkan secara fokus ke lingkungan Azalea. Sasaran penerima manfaat diperluas, tidak hanya anak yatim, tetapi juga anak-anak dari keluarga fakir miskin. Rosidi, staf bidang pengurusan kematian dan sosial, menyampaikan bahwa setidaknya telah terdata tiga keluarga miskin yang akan menjadi sasaran awal program ini.
Sementara itu, bidang-bidang lain pada umumnya melanjutkan program periode sebelumnya tanpa banyak perubahan. Bidang humas dan dokumentasi, misalnya, berencana membangun jejaring dengan pengelola media dan humas masjid-masjid lain di wilayah Cilodong, tempat Masjid Nurul Jannah berada. Melanjutkan proses digitalisasi sistem informasi masjid, salah satunya dengan aplikasi Maslam.
Rapat kerja itu ditutup tanpa seremoni berlebihan. Namun dari ruang pertemuan yang minim kertas itu, tersisa kesan bahwa Masjid Nurul Jannah tengah berusaha menata diri sebagai ruang ibadah yang responsif terhadap zaman—merawat iman, menguatkan solidaritas, sekaligus memberi jawaban atas persoalan lingkungan dan sosial di sekitarnya

