Dari Mimbar ke Layar: Digitalisasi Masjid dan Jejak Lingkungan yang Berkurang – Masjid Nurul Jannah Cluster Azalea
  • Mari gunakan aplikasi MASLAM untuk mobile android. Unduh di playstore ** Masjid Nurul Jannah Azalea - masjid pinggir alun-alun Depok
Rabu, 14 Januari 2026

Dari Mimbar ke Layar: Digitalisasi Masjid dan Jejak Lingkungan yang Berkurang

Dari Mimbar ke Layar: Digitalisasi Masjid dan Jejak Lingkungan yang Berkurang
Bagikan

Pada Sabtu malam, 13 Desember 2025, suasana di Masjid Nurul Jannah, kawasan Sektor Azalea Grand Depok City, berjalan seperti biasa. Namun saat itu jamaah berkumpul setelah salat Isya untuk mengikuti laporan pertanggungjawaban (LPJ) pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Jannah periode 2023-2025. Ada satu hal yang berbeda—dan barangkali luput dari perhatian banyak orang. Tidak ada setumpuk kertas laporan di tangan jamaah. Tidak ada map, tidak ada fotokopi, tidak ada antrean membagikan berkas.

Naskah LPJ tersedia dalam bentuk digital, tersimpan rapi di Google Drive. Jamaah dipersilakan mengunduh dan membacanya melalui telepon genggam masing-masing. Sederhana, praktis, dan nyaris tanpa seremoni. Tetapi justru di situlah letak maknanya.

Di saat yang hampir bersamaan, berbagai wilayah di Sumatera dilanda banjir. Salah satu dugaan kuat penyebabnya kembali mengemuka: penebangan hutan dan eksploitasi kawasan hutan secara berlebihan. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan air hujan kehilangan perannya. Air turun, tanah tak lagi mampu menahan, banjir pun datang.

Dua peristiwa ini—LPJ digital di sebuah masjid dan banjir di Sumatera—terlihat tidak saling berkaitan. Namun jika ditarik lebih jauh, keduanya bertemu pada satu simpul yang sama: hubungan manusia dengan sumber daya alam.

Mengurangi Kertas, Mengurangi Luka Hutan

Digitalisasi sistem informasi masjid, terutama dalam bentuk paperless system, secara langsung mengurangi kebutuhan akan kertas. Pengumuman, laporan keuangan, undangan kegiatan, hingga LPJ pengurus tidak lagi harus dicetak puluhan atau ratusan lembar. Setiap lembar kertas yang tidak dicetak berarti satu langkah kecil mengurangi tekanan terhadap hutan.

Industri kertas bukan hanya soal pohon yang ditebang. Ia juga menyerap air dalam jumlah besar dan energi tinggi dalam proses produksinya. Ketika Masjid Nurul Jannah memilih menyediakan LPJ melalui Google Drive, keputusan itu bukan sekadar efisiensi administrasi. Ia adalah bentuk kesadaran ekologis, meski mungkin belum dinamai demikian.

Jika praktik ini dilakukan secara konsisten dan meluas—dari masjid ke masjid, dari komunitas ke komunitas—maka dampaknya menjadi akumulatif. Bukan tidak mungkin, upaya-upaya kecil seperti ini menjadi bagian dari rantai panjang pencegahan kerusakan lingkungan.

Rapat Daring dan Energi yang Tak Terbakar

Digitalisasi juga mengurangi kebutuhan mobilitas fisik. Rapat pengurus, koordinasi kegiatan, hingga diskusi persiapan acara kini dapat dilakukan secara daring. Setiap rapat yang tidak mengharuskan perjalanan berarti pengurangan konsumsi bahan bakar kendaraan, sekaligus penurunan emisi gas buang.

Dalam skala kecil, satu rapat daring mungkin tampak sepele. Namun dalam skala tahunan, puluhan pertemuan tanpa perjalanan berarti energi yang tidak dibakar dan udara yang tidak tercemar. Ini adalah bentuk efisiensi energi yang sering tidak disadari, tetapi nyata dampaknya.

Transaksi Digital, Jejak Fisik yang Menyusut

Infak, sedekah, dan donasi masjid kini banyak beralih ke sistem digital. QRIS, transfer bank, dan dompet elektronik menggantikan kupon kertas, karcis, dan laporan manual. Digitalisasi transaksi ini kembali menekan penggunaan kertas, tinta, dan logistik pendukung lainnya.

Lebih dari itu, sistem digital memungkinkan pengelolaan yang lebih presisi. Data tercatat rapi, distribusi dana lebih tepat, dan kebutuhan pencetakan berulang dapat dihindari. Lingkungan diuntungkan, transparansi pun meningkat.

Data Peserta, Konsumsi yang Terkendali

Digitalisasi pendaftaran kegiatan masjid juga berkontribusi pada pengurangan pemborosan sumber daya. Dengan data jumlah peserta yang lebih akurat, konsumsi makanan, air minum, dan perlengkapan dapat disesuaikan. Tidak ada lagi konsumsi berlebih yang akhirnya terbuang.

Setiap nasi kotak yang tidak terbuang, setiap botol air yang tidak menjadi sampah, berarti penghematan bahan pangan, air, dan energi distribusi. Sekali lagi, dampaknya mungkin kecil jika berdiri sendiri, tetapi signifikan jika dilakukan terus-menerus.

Dari Masjid ke Kesadaran Kolektif

Banjir di Sumatera mengingatkan kita bahwa kerusakan lingkungan sering kali berakar dari keputusan-keputusan manusia yang tampak jauh dari kehidupan sehari-hari. Penebangan hutan dilakukan demi kebutuhan ekonomi, pembangunan, dan konsumsi yang terus meningkat. Namun konsumsi itu juga ditopang oleh kebiasaan kita sehari-hari—termasuk kebiasaan mencetak, bepergian, dan membuang.

Digitalisasi sistem informasi masjid tidak akan menghentikan banjir secara langsung. Tetapi ia membangun budaya baru: budaya hemat sumber daya, sadar lingkungan, dan bertanggung jawab. Ketika masjid—sebagai institusi moral dan sosial—mempraktikkan hal ini, pesan yang disampaikan jauh lebih kuat daripada sekadar ceramah.

Ketua tim transformasi digital sistem informasi Masjid Nurul Jannah, Lais Abid, lega dengan proses penyampaian LPJ kali ini. Karena digitalisasi bisa diterapkan. “Dengan tidak mencetak laporan pertanggungjawaban pengurus ini, setidaknya masjid Nurul Jannah telah berperan serta dalam upaya penyelamatan lingkungan, meski tidak secara langsung mencegah banjir”, ungkapnya, saat forum penyampaian LPJ pengurus Sabtu malam lalu.

LPJ yang dibaca di layar ponsel jamaah malam itu mungkin terlihat sederhana. Namun bisa jadi, di sanalah jejak kecil upaya penyelamatan lingkungan sedang ditorehkan. Dari mimbar ke layar, dari masjid ke hutan, dari keputusan kecil menuju dampak yang lebih besar.

SebelumnyaNasburi Terpilih sebagai Ketua DKM Nurul Jannah Azalea GDC, Regenerasi dan Penguatan Ekonomi Umat Jadi Isu UtamaSelanjutnyaKencleng dan Proyektor, Arah Baru Masjid Nurul Jannah
1 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lais Abid, Jumat 19 Des 2025

Saya setuju dengan konsep MNJ ini

Balas
Masjid Nurul Jannah
Jalan Boulevard GDC Cluster Azalea Jatimulya Cilodong Depok Jawa Barat 16413. SIMAS: 01.4.13.23.08.000034 http://s.id/masjidnuruljannah
Luas Area412 m2 m2
Luas Bangunan380 m2 m2
Status LokasiFasilitas umum yang dikuasai Pemkot Depok (girik)
Tahun Berdiri2007