Qurban yang Tetap Menyala di Azalea – Masjid Nurul Jannah Cluster Azalea
  • Mari gunakan aplikasi MASLAM untuk mobile android. Unduh di playstore ** Masjid Nurul Jannah Azalea - masjid pinggir alun-alun Depok
Kamis, 18 Juni 2026

Qurban yang Tetap Menyala di Azalea

Qurban yang Tetap Menyala di Azalea
Bagikan

Pagi Idul Adha di Grand Depok City selalu datang dengan suasana yang khas. Udara masih sejuk ketika gema takbir memantul dari rumah ke rumah. Warga berjalan menuju masjid sambil membawa sajadah. Anak-anak mengenakan pakaian terbaik mereka. Di beberapa sudut kompleks, panitia qurban sudah mulai bersiap sejak sebelum matahari terbit.

Di Cluster Azalea, pusat kegiatan itu berada di Masjid Nurul Jannah.

Pada Kamis, 28 Mei 2026 atau 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah, ratusan jamaah berkumpul untuk melaksanakan Shalat Idul Adha. Bertindak sebagai imam dan khotib adalah Ustadz H. Syahruddin El Fikri, S.Ag, pengasuh Majelis Taklim Rumah Berkah. Dalam khutbahnya yang bertema Teladan untuk Keluarga dalam Ibadah Qurban, ia mengajak jamaah melihat Idul Adha bukan sekadar sebagai ritual penyembelihan hewan, melainkan sebagai madrasah keimanan yang menghadirkan pelajaran nyata tentang pengorbanan, ketaatan, dan keteladanan keluarga.

Menurutnya, seluruh anggota keluarga Nabi Ibrahim AS telah lulus menghadapi ujian yang diberikan Allah SWT. Nabi Ibrahim sebagai ayah, Siti Hajar sebagai ibu, dan Nabi Ismail sebagai anak menunjukkan kualitas keimanan yang luar biasa ketika menghadapi perintah yang tidak mudah dijalankan oleh manusia biasa.

Dalam khutbahnya, Ustaz Syahruddin menggambarkan Nabi Ibrahim sebagai sosok ayah yang tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga menjadi pembimbing rohani bagi anak-anaknya. Ketika menerima perintah untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ibrahim tidak menggunakan kekuasaan seorang ayah untuk memaksa. Sebaliknya, beliau membuka ruang dialog dengan Nabi Ismail.

Di situlah letak keteladanan yang sering terlupakan pada masa sekarang.

Banyak orang tua begitu sibuk mengejar target pekerjaan dan urusan duniawi sehingga lupa mendampingi pertumbuhan spiritual anak-anak mereka. Khatib mengingatkan bahwa tidak sedikit ayah yang hafal jadwal rapat, target bisnis, atau agenda pekerjaan, tetapi kurang mengetahui bagaimana kualitas shalat anak-anaknya, siapa teman bergaul mereka, atau bagaimana perkembangan akhlaknya sehari-hari.

“Kita sering menjadi pencari nafkah yang baik, tetapi belum tentu menjadi pendidik yang baik,” demikian inti pesan yang disampaikan kepada para jamaah pagi itu.

Khutbah juga mengangkat keteladanan Siti Hajar. Sosok ibu yang ditinggalkan di lembah Makkah yang tandus itu tidak larut dalam keputusasaan. Ia menerima perintah Allah dengan penuh keyakinan, namun tetap melakukan ikhtiar yang maksimal. Larinya Siti Hajar antara bukit Safa dan Marwah menjadi simbol bahwa tawakal tidak berarti berpangku tangan. Keimanan harus berjalan beriringan dengan usaha.

Pesan berikutnya ditujukan kepada para anak dan remaja yang hadir.

Nabi Ismail ditampilkan sebagai contoh anak yang memiliki adab luhur. Ketika menerima penjelasan ayahnya tentang perintah Allah, ia menjawab dengan kesabaran dan ketaatan. Dari kisah itu, khatib mengingatkan bahwa menghormati orang tua bukan sekadar kewajiban agama, tetapi juga jalan menuju keberkahan hidup.

Ia mengingatkan bahwa di era modern sering muncul gejala anak-anak yang berbicara keras kepada orang tua, bahkan memperlakukan mereka seperti pembantu di rumah sendiri. Padahal dalam ajaran Islam, orang tua harus dimuliakan. Mereka adalah sebab hadirnya kehidupan dan keberhasilan seorang anak. Semakin tinggi penghormatan kepada orang tua, semakin besar pula harapan datangnya keberkahan rezeki dan kehidupan.

Pesan-pesan itu terasa relevan dengan kehidupan warga perumahan yang sehari-hari disibukkan oleh pekerjaan, pendidikan anak, dan berbagai tantangan ekonomi. Di tengah ritme kehidupan perkotaan yang serba cepat, Idul Adha menjadi ruang untuk kembali mengingat makna keluarga.

Usai shalat, aktivitas bergeser ke Lapangan Badminton Azalea yang lebih dikenal sebagai Azalea Arena. Sejak beberapa tahun terakhir, penyembelihan hewan qurban memang tidak lagi dilakukan di halaman masjid. Sebagian kegiatan juga didukung oleh fasilitas taman RT 03 dan Gedung Serbaguna RW 06 agar proses penyembelihan, pengemasan, dan distribusi daging dapat berlangsung lebih tertib dan nyaman.

Suasana gotong royong langsung terasa.

Para remaja membantu membungkus daging. Ibu-ibu menyiapkan konsumsi bagi panitia. Anak-anak mengamati dari kejauhan dengan rasa ingin tahu yang besar. Di tengah kesibukan itu, warga saling menyapa dan berbagi cerita. Qurban menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia menjadi peristiwa sosial yang mempertemukan banyak orang dalam satu semangat yang sama.

Tahun ini, Masjid Nurul Jannah mencatat capaian yang cukup menggembirakan.

Data menunjukkan jumlah hewan qurban mencapai tujuh ekor sapi dan 27 ekor kambing atau domba. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencatat lima sapi dan 26 kambing, terjadi peningkatan pada kedua kategori.

Bahkan jika ditarik lebih jauh ke tahun 2024, jumlah sapi tahun ini menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024 tercatat enam sapi dan 29 kambing. Tahun berikutnya turun menjadi lima sapi dan 26 kambing. Kini jumlah sapi naik menjadi tujuh ekor, sementara kambing kembali meningkat menjadi 27 ekor.

Kenaikan itu bukan sekadar statistik.

Seekor sapi biasanya merupakan hasil gotong royong tujuh peserta qurban. Di balik angka tujuh sapi terdapat puluhan keluarga yang sejak berbulan-bulan sebelumnya menyisihkan sebagian rezekinya. Ada komitmen bersama yang dibangun perlahan. Ada rasa percaya yang tumbuh di antara warga.

Karena itu, peningkatan jumlah qurban di Nurul Jannah dapat dibaca sebagai cerminan kuatnya solidaritas sosial warga Azalea.

Hal ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Banyak keluarga masih menghadapi kenaikan biaya hidup, mulai dari kebutuhan pangan, pendidikan, hingga berbagai pengeluaran rutin lainnya. Dalam situasi seperti itu, kemampuan masyarakat untuk mempertahankan bahkan meningkatkan partisipasi qurban menunjukkan bahwa semangat berbagi masih terjaga.

Fenomena serupa terlihat pada skala yang lebih besar di seluruh Grand Depok City.

Data Forsil DKM GDC menunjukkan tren peningkatan yang konsisten selama tiga tahun terakhir. Pada 2024 jumlah qurban tercatat 161 sapi dan 374 kambing atau domba. Tahun berikutnya meningkat menjadi 167 sapi dan 462 kambing atau domba. Pada Idul Adha 1447 H atau 2026, jumlah tersebut kembali bertambah menjadi 176 sapi dan 514 kambing atau domba. Dengan kata lain, dalam setahun terakhir jumlah sapi meningkat sekitar 5,4 persen, sedangkan kambing dan domba bertambah sekitar 11,3 persen.

Artinya, dalam tiga tahun, jumlah sapi bertambah sekitar 9 persen, sedangkan kambing dan domba melonjak lebih dari 36 persen.

Beberapa masjid menunjukkan pertumbuhan yang sangat menonjol.

Masjid Baitul Ihsan di Puri Insani 2 menjadi salah satu pusat qurban dengan pertumbuhan paling menonjol tahun ini. Jumlah kambing dan domba melonjak dari 25 ekor menjadi 56 ekor, sementara jumlah sapi tetap tinggi dengan 12 ekor. Lonjakan ini menunjukkan meningkatnya partisipasi jamaah dalam ibadah qurban.

Masjid Al Ittihad di Taman Anyelir 3 juga mencatat perkembangan yang menarik. Jumlah kambing dan domba meningkat menjadi 49 ekor, hampir dua kali lipat dibanding capaian tahun 2024 yang berjumlah 25 ekor. Bersama delapan ekor sapi yang dihimpun tahun ini, Al Ittihad menjadi salah satu kontributor terbesar qurban di Grand Depok City.

Masjid Baitul Izzah di Melati menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dengan 23 sapi dan 46 kambing. Masjid Al Falah di Anggrek 3 tetap menjadi salah satu pusat qurban sapi terbesar dengan 21 ekor sapi. Sementara Masjid Al Muiz di Al Azhar masih menjadi salah satu lokasi qurban kambing terbesar dengan 44 ekor kambing.

Jika dilihat sekilas, semua angka itu mungkin hanya deretan data dalam sebuah tabel. Namun di baliknya terdapat cerita tentang masyarakat yang tetap menjaga tradisi berbagi di tengah berbagai tantangan zaman.

Di kawasan perumahan yang terus berkembang seperti Grand Depok City, qurban tidak hanya menjadi ibadah individual. Ia juga menjadi ukuran kesehatan sosial sebuah komunitas. Ketika warga masih mau bergotong royong, masih mau berbagi rezeki dengan sesama, dan masih mau menyisihkan sebagian hartanya untuk kepentingan orang lain, berarti modal sosial masyarakat itu masih kuat.

Di Azalea, semangat itu tampak nyata. Tujuh sapi dan dua puluh tujuh kambing yang dihimpun warga mungkin hanya sebagian kecil dari total 690 hewan qurban yang terkumpul di seluruh Grand Depok City tahun ini. Namun di balik angka-angka tersebut tersimpan cerita yang jauh lebih besar tentang gotong royong, kepedulian sosial, dan ketahanan sebuah komunitas dalam menjaga tradisi berbagi di tengah berbagai tantangan ekonomi. Itulah warisan nilai yang sesungguhnya diajarkan oleh Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail kepada umat manusia hingga hari ini.

SebelumnyaWujudkan Transparansi Total, DKM Nurul Jannah Integrasikan Laporan Keuangan Secara Real-Time Lewat Aplikasi MaslamSelanjutnyaMasjid Nurul Jannah Sediakan Tempat Sampah Khusus Botol dan Kaleng, Perkuat Gerakan Pilah Sampah RW 06 Azalea
Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Nurul Jannah
Jalan Boulevard GDC Cluster Azalea Jatimulya Cilodong Depok Jawa Barat 16413. SIMAS: 01.4.13.23.08.000034 http://s.id/masjidnuruljannah
Luas Area412 m2 m2
Luas Bangunan380 m2 m2
Status LokasiFasilitas umum yang dikuasai Pemkot Depok (girik)
Tahun Berdiri2007