Qurban yang Tetap Menyala di Azalea – Masjid Nurul Jannah Cluster Azalea
  • Mari gunakan aplikasi MASLAM untuk mobile android. Unduh di playstore ** Masjid Nurul Jannah Azalea - masjid pinggir alun-alun Depok
Kamis, 28 Mei 2026

Qurban yang Tetap Menyala di Azalea

Qurban yang Tetap Menyala di Azalea
Bagikan

Pagi Idul Adha di Grand Depok City selalu datang dengan suasana yang khas. Udara masih dingin ketika gema takbir mulai memantul dari pengeras suara masjid dan rumah-rumah warga. Anak-anak berjalan sambil membawa sajadah kecil. Para orang tua mengenakan pakaian terbaik mereka. Jalan-jalan kompleks perlahan dipenuhi langkah menuju masjid.

Di Cluster Azalea, suasana itu berpusat di Masjid Nurul Jannah.

Tahun ini, pelaksanaan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah digelar pada Rabu pagi 27 Mei 2026. Sejak selepas Subuh jamaah mulai berdatangan memenuhi area sekitar masjid. Takbir berkumandang panjang menyambut hari raya yang selalu menghadirkan rasa haru sekaligus kebersamaan.

Shalat Ied dimulai pukul 06.30 WIB dengan imam dan khotib Ustadz H. Syahruddin El Fikri S.Ag, pengasuh Majelis Taklim Rumah Berkah. Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema “Teladan untuk Keluarga dalam Ibadah Qurban”.

Tema itu terasa dekat dengan kehidupan warga perumahan. Tentang bagaimana qurban bukan hanya urusan menyembelih hewan, melainkan juga pendidikan nilai di dalam keluarga. Tentang anak-anak yang belajar berbagi sejak kecil. Tentang orang tua yang mengajarkan arti pengorbanan dan kepedulian sosial melalui tindakan nyata.

Usai shalat, aktivitas qurban pun bergerak ke kawasan Lapangan Badminton Azalea atau yang lebih akrab disebut warga sebagai Azalea Arena. Sejak beberapa tahun terakhir, penyembelihan hewan qurban memang tidak lagi dipusatkan di halaman masjid. Sebagian kegiatan juga berlangsung di taman RT 03 dan gedung serbaguna RW 06 agar proses penyembelihan dan distribusi lebih tertata.

Perubahan lokasi itu justru membuat suasana Idul Adha terasa lebih hidup dan komunal.

Anak-anak berdiri di pinggir arena sambil memperhatikan panitia bekerja. Para remaja sibuk membantu membungkus daging qurban ke dalam kantong-kantong distribusi. Ibu-ibu menyiapkan makanan untuk panitia yang bekerja sejak pagi. Di sudut lain beberapa warga duduk bercengkerama sambil sesekali mengucap takbir.

Di tengah suasana itu ada satu hal yang diam-diam menarik untuk dibaca. Tradisi qurban di kawasan ini ternyata belum melemah. Bahkan di beberapa tempat justru tumbuh.

Masjid Nurul Jannah menjadi salah satu contohnya.

Dalam tiga tahun terakhir jumlah hewan qurban di masjid ini bergerak seperti denyut ekonomi masyarakatnya. Tahun 2024 tercatat enam sapi dan 29 kambing atau domba. Setahun kemudian jumlahnya sedikit turun menjadi lima sapi dan 26 kambing. Banyak keluarga mulai merasakan harga kebutuhan pokok yang terus naik dan pengeluaran rumah tangga yang makin ketat.

Namun tahun 2026 menghadirkan kejutan kecil.

Jumlah sapi di Nurul Jannah naik menjadi tujuh ekor. Itu menjadi angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Jumlah kambing memang turun menjadi 21 ekor, tetapi semangat qurban warga tidak tampak surut.

Di balik angka-angka itu ada cerita tentang daya tahan sebuah komunitas.

Seekor sapi bukan sekadar hewan qurban. Dalam lingkungan perumahan, satu sapi berarti tujuh orang yang sepakat menyisihkan uang bersama-sama. Ada iuran bertahap sejak beberapa bulan sebelumnya. Ada percakapan panjang di grup warga. Ada rasa saling percaya yang tumbuh perlahan.

Karena itu kenaikan jumlah sapi di Nurul Jannah seperti menjadi penanda kecil bahwa kebersamaan warga Azalea masih terjaga.

Di tengah kabar pemutusan hubungan kerja dan daya beli masyarakat yang melemah, warga masih berusaha menjaga tradisi berbagi. Mereka mungkin menunda membeli barang baru atau mengurangi pengeluaran lain. Tetapi ketika Idul Adha datang, mereka tetap ingin ada daging yang bisa dibagikan kepada tetangga, petugas kebersihan, pengemudi ojek online, hingga pekerja harian di sekitar lingkungan.

Qurban memang tidak pernah hanya soal angka.

Dalam sejarah Islam, ibadah itu lahir dari kisah Nabi Ibrahim yang rela menyerahkan sesuatu yang paling dicintainya demi ketaatan kepada Allah. Dari sanalah qurban berkembang menjadi simbol keikhlasan dan solidaritas sosial.

Fenomena serupa terlihat hampir di seluruh Grand Depok City.

Data Forsil DKM GDC menunjukkan total qurban justru meningkat selama tiga tahun terakhir. Tahun 2024 tercatat 161 sapi dan 374 kambing atau domba. Tahun berikutnya naik menjadi 167 sapi dan 462 kambing. Sementara tahun 2026 kembali bertambah menjadi 173 sapi dan 492 kambing atau domba.

Ada masjid yang pertumbuhannya mencolok. Masjid Baitul Ikhsan di Puri Insani 2 melonjak tajam dengan 51 kambing pada 2026. Sementara Masjid Baitul Izzah di Melati terus menjadi salah satu pusat qurban sapi terbesar dengan 23 ekor sapi tahun ini.

Jika dilihat sekilas, semua ini hanya angka di atas tabel. Tetapi di balik angka itu sebenarnya ada cerita tentang sebuah kawasan urban yang masih mencoba menjaga empati di tengah tekanan hidup kota.

Dan mungkin itu sebabnya suasana Idul Adha di Azalea tetap terasa hangat.

Bukan semata karena jumlah hewan qurbannya. Melainkan karena warganya masih percaya bahwa berbagi belum kehilangan makna.

SebelumnyaWujudkan Transparansi Total, DKM Nurul Jannah Integrasikan Laporan Keuangan Secara Real-Time Lewat Aplikasi Maslam
Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Nurul Jannah
Jalan Boulevard GDC Cluster Azalea Jatimulya Cilodong Depok Jawa Barat 16413. SIMAS: 01.4.13.23.08.000034 http://s.id/masjidnuruljannah
Luas Area412 m2 m2
Luas Bangunan380 m2 m2
Status LokasiFasilitas umum yang dikuasai Pemkot Depok (girik)
Tahun Berdiri2007